Call Center +62 (061) 7358938
Berita
 
Wushu Itu Langit Tanpa Batas
22 Sep 2019
Wushu Itu Langit Tanpa Batas

Konjen Tiongkok di Medan Qiu Weiwei diabadikan para pengurus dan atlet Yayasan Kusuma Wushu Indonesia.

MESKI terlahir sebagai seni bela diri Tiongkok yang sebagian lalu bertransformasi sebagai olahraga prestasi, wushu dipelajari, dianut, dan dikembangkan oleh berbagai orang dari ras, etnik, dan suku di dunia. Wushu memang bagai langit tanpa batas.

Sebuah dialog menarik terjadi antara Konjen Tiongkok untuk Sumatera, Qiu Weiwei dan Master Supandi Kusuma di ruang kerja Pemimpin Harian Analisa, Selasa (17/9) sore.

“Apakah atlet-atlet yang telah dibina dan berprestasi dari Padepokan Yayasan Kusuma Wushu Indonesia itu orang Tionghoa semua?” Pertanyaan itu dilontarkan Qiu Weiwei usai mendengar paparan singkat Supandi Kusuma, tentang kiprahnya dalam membina dan mengembangkan prestasi para pendekar wushu Indonesia, terutama mereka yang berasal dari Sumut.

Penyandang Dan VIII dari Chinese Wushu Association 2010 itu tersenyum simpul. Supandi Kusuma menggeleng­kan kepalanya. Ia lalu bercerita tak se­dikit mereka berasal dari etnis non-Tionghoa. Mereka datang ke padepok­an diantar orang tua dengan satu per­­mintaan, minta dilatih olahraga wushu.

Lintas Ras, 

Meski wushu merupakan seni bela diri asal Tiongkok, namun sebagai salah satu cabang olahraga, peminat­nya berasal dari ragam latar belakang etnis dan suku yang ada di Indonesia. Di Padepokan YKWI misalnya ter­catat ada Dwi Arimbi Lubis, atlet spesialis taiji dan taijijian, berdarah Mandailing.

Dwi bahkan fasih berbahasa Hokki­an dan kini menjadi salah satu pelatih di Padepokan YKWI. Ada juga Juwita Niza Wasni, peraih medali emas nomor nanquan Asian Games 2014 dan Desy Indri Astuti peraih medali emas nomor nanquan PON 2012 di Pe­kanbaru. Keduanya keturunan Jawa Deli.

Dari generasi yang lebih muda ada M Al Fayed, yang pernah meraih me­dali emas nomor gabungan nanquan -nangun pada Kejurnas Junior 2016.

Di Jakarta ada Ahmad Hulaefi, atlet spesialis chanquan dari Sasana Inti Bayangan, peraih medali emas Kejuaraan Dunia Wushu 2015. Ia anak dari seorang guru silat ternama di Jakarta era 1980-an. Di Kalimantan Timur ada Marthen Tangdilalo.

Bukan rahasia lagi, pada wushu nomor tarung (sanda), wushu justru didominasi atlet non-Tionghoa. Namun juga tak dipungkiri, peminat dan jumlah atlet wushu di negara kita untuk nomor taolu (pertunjukan), masih lebih banyak berasal dari etnis Tionghoa Indonesia. Tentu ini hal yang wajar. Bagaimanapun meski sudah lahir dan besar di Indonesia, proses identifikasi diri orang Tionghoa Indonesia dengan budaya Tiongkok lebih reseptif.

Nomor taolu memang tak hanya menuntut penguasaan teknik gerakan, tapi juga unsur seni, keindahan, dan filosofi. Itu sebabnya, untuk jadi atlet taulo butuh waktu latihan lebih lama.

Di kalangan pesohor kita, juga tak sedikit yang memelajari wushu, di antaranya penyanyi Sherina Munaf, artis sinetron Olivia Zalianty, Surya Saputra, dan model terkenal Roro Fotria.

Sejak dekade 1990-an, setelah pemerintah tak lagi melarang wushu untuk dipelajari dan dikembangkan di tanah air, wushu tampil sebagai salah satu seni bela diri yang banyak dimi­na­ti masyarakat.

Kagumi YKWI

Penggalan dialog antara Qiu Weiwei dan Supandi Kusuma itu terjadi saat kunjungan ke harian Analisa. Konjen didampingi wakilnya, Wang Jun dan Konsul Medan, Guo Jing Fei. Semen­tara Supandi Kusuma didampingi Paulus M Tjukrono, Dr. Tony, M.Kn, Sujito Sukirman, Pemred Zhengbao, Halim Kusuma dan Ketua Pengprov WI Sumut, Darsen Song.

Usai berkunjung, rombongan terse­but meninjau Padepokan YKWI di Jalan Wushu, Medan. Didampingi Supandi Kusuma dan Ketua Pade­pokanYKWI, Heriyanto, Qiu Weiwei mengaku kagum melihat keberadaan padepokan yang telah melahirkan puluhan atlet wushu berprestasi kelas dunia itu.

“Saya lihat sangat lengkap sarana­nya,” ujar Qiu Weiwei yang pada 2013 – 2015 menjabat Wakil Konjen Tiongkok di Chiang Mai. Menurutnya hal itu memerlihatkan pengorbanan Supandi Kusuma dalam membina wushu sudah cukup banyak. Soal keberhasilan para atlet Padepokan YKWI meraih medali emas dalam ajang pertandingan internasional, Qiu Weiwei menyebut hal itu sebagai konsekuensi dari pembinaan jangka panjang dan berkelanjutan.

Saat melihat puluhan anak usia SD tengah berlatih wushu di ruang latihan, ia langsung menghampiri. Ia menya­lami satu persatu anak-anak itu dan memberi mereka boneka panda.

“Saya bangga wushu yang merupa­kan salah satu kekayaan budaya Tiongkok sangat berkembang di daerah ini,” katanya. Menurut Qiu Weiwei, wushu tak hanya berguna untuk kesehatan, bela diri, tapi juga bisa jadi ajang karier bagi yang ingin berprestasi dalam cabang olahraga bela diri.

Di Tiongkok sendiri wushu olahraga sangat populer. Di sekolah-sekolah wushu diajarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler, ada yang menjadikan sebagai olahraga wajib. Bahkan di jenjang perguruan tinggi juga sudah ada jurusan wushu. Sasana-sasana wu­shu swasta hampir ada di tiap kota besar.

Ketua Harian Padepokan YKWI, Heriyanto membenarkan. Menurut Ace, panggilan akrab Heriyanto, klub-klub wushu di sana juga banyak merekrut atlet-atlet nasional Tiongkok sebagai pelatih. Selama ini Pemerin­tah Tiongkok memang memberi gaji, fasilitas akomodasi, dan transportasi bagi atlet berprestasi di tingkat nasio­nal. Setelah pensiun sebagai atlet, mereka juga diberi pekerjaan, seperti jadi pelatih, dosen di universitas, guru di sekolah, dsb.

Tak heran, dengan sistem seperti itu, banyak warga Tiongkok berlatih wushu. “Namun jangan beranggapan semua warga Tiongkok bisa bermain wushu,” ujarnya. Di depan konjen dan beberapa penggiat taijiquan yang rutin berlatih di padepokan, Supandi Kusu­ma sempat memeragakan beberapa gerakan dasar taijiquan.

Master Taijiquan Indonesia

Taijiquan merupakan salah satu cabang seni bela diri wushu aliran lembut. Meski begitu, dalam kelem­but­an setiap gerakan tajiquan tersim­pan kekuatan. Supandi Kusuma merupakan Master Taijiquan Indonesia yang pernah belajar taijiquan aliran chen dan yang, dua dari 4 aliran taijiquanyang berkembang di dunia dan memiliki jutaan penganut di seluruh dunia.

Untuk aliran.chen, ia belajar lang­sung dari Master Chen Xiaowang, ketua generasi ke-19 taijiquan aliran chen, dan dari Feng Zhiquan, murid andalan Chen Fake, ketua generasi ke-17. Sedang untuk aliran yang, ia belajar dari Yang Zhen Duo, ketua generasi ke-4 taijiquan aliran yang.

Seolah merasa tak pernah cukup belajar taijiquan, saat mudanya, Supandi Kusuma juga pernah belajar dari Profesor Wushu dari Universitas Olahraga Beijing, Men Hui Feng. Ia merupakan salah satu dari 10 master wushu dunia pencipta rangkaian 42 jurus taijiquan yang dipertandingkan secara internasional oleh International Wushu Federation (IWUF).

Satu lagi gurunya adalah Master Zhou Shu Seng yang menyandang predikat 10 Master Wushu Terbaik Dunia 2007. Di Indonesia, Master Supandi Kusuma bisa jadi merupakan satu-satunya pelatih taijiquan yang pernah mereguk ilmu beladiri aliran lembut sekomplit itu dari para master taijiquan sohor dunia.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kiprah Supandi Kusuma dalam memo­pulerkan wushu di Indonesia, Qiu Weiwei berencana mengundang tim atlet wushu dari padepokan itu tampil saat perayaan Hari Kemerdekaan Tiongkok, 1 Oktober. Rencananya perayaan itu akan diadakan pada 25 September di Medan.

“Saya merasa terhormat atlet-atlet YKWI diberi kesempatan tampil dalam perayaan HUT Tiongkok nanti,” ujar Supandi Kusuma. Sebagai tokoh wushu Indonesia, ia memang seolah tak pernah berhenti mencintai wushu. Tak berlebihan jika Seksi Organisasi Wartawan Olahraga PWI atau SIWO PWI, pada 2019 memberi­kan penghargaan Lifetime Achievement Golden Award.

Supandi Kusuma memang pernah berkata, “Memelajari wushu, terutama taijiquan itu ibarat langi tanpa batas. Artinya belajar wushu tak pernah bisa berhenti. Namun belajar wushu juga tak pernah membedakan ras dan etnis. Se­panjang orang masih hidup di bawah langit, mereka bisa memelajari wushu. Memelajari wushu bukan se­ka­dar untuk kesehatan dan bela diri, tapi belajar menjunjung tinggi mora­litas dan etika.”

Head Office

Jl. Wushu No. 3-7 Medan 20214
Sumatera Utara - Indonesia
Telp. +6261 7358938 - 7359338
Fax. + 6261 7362980

http://www.ykwi.or.id
Email : ykwi.wushu@gmail.com

Daftar Sekarang Juga
Sebagai Anggota Baru WushuTai-Chi

Kami akan terus bekerja lebih keras demi prestasi Indonesia. Kami akan memenuhi kebutuhan atlet-atlet PELATNAS dengan program kami seperti mendatangkan pelatih Tiongkok atau mengirim atlet kita ke Tiongkok. Atlet dan pelatih juga harus bekerja lebih keras

Partners