Call Center +62 (061) 7358938
Berita
 
Melangkahlah Ringan Seperti Kucing
12 Jul 2017 - harian.analisadaily.com
Melangkahlah Ringan Seperti Kucing

(Analisa/junaidi gandy) AJARKAN TAIJI: Master Taiji yang juga Pemilik Yayasan Kusuma Wushu Indonesia (YKWI) Master Supandi Kusuma mengajarkan jurus Taiji kepada putri legenda tinju Indonesia Chris John, Maria Luna Ferisa di Padepokan Yayasan Kusuma Wushu Indonesia, Sabtu (8/7).

Oleh: J Anto.

“Kuda-kuda kamu harus kuat, kalau sudah kuat nanti saat melangkah, kakimu bisa seperti kucing tengah berjalan. Tubuhmu terasa ringan. Lang­kah kaki kamu pun tak menge­luarkan suara. Lalu saat berge­rak kamu juga harus seperti gerbong kereta api. Tulang-tulang begerak mengi­kuti

Fefe (12), mengangguk, matanya berkejap, senyumnya tersungging saat mende­ngar nasehat dari laki-laki itu. Remaja yang punya nama lengkap Maria Luna Ferisa, dan Juli ini baru akan duduk di bangku kelas satu SMP, baru pertama kali mendengar petun­juk sepert itu selama satu tahun belajar Taijiquan di Sasana Ga­ru­da Mas, Semarang, Jawa Tengah.

Darmawan, seorang pengu­rus Peng­prov Wushu Riau yang kebetulan menyaksikan adegan itu langsung menukas: “Wah, pasti mahal biaya bela­jar dari seorang Master Taijiquan, apalagi penyandang DAN VIII .….”

Tentulah Darmawan tengah berkela­kar. Tapi ia serius dan tak salah sebut saat menyebut master Taijiquan pe­nyandang DAN VIII itu. Yang dimaksud Darmawan, tak lain adalah Master Supandi Kusuma. Memang di tanah air, ia bisa dibilang satu-satunya master Taijiquan penyandang DAN VIII. Da­lam seni beladiri Wu­shu, sangat sedikit praktisi Wu­shu yang bisa mencapai DAN VIII.

Supandi Kusuma juga se­orang ahli taiji yang telah mempelajari Taijiquan aliran Chen dan Yang, dua dari 4 aliran Taijiquan yang berkem­bang di dunia dan memiliki jutaan penganut di seluruh dunia.

Untuk aliran Chen, ia belajar langsung dari Master Chen Xiaowang, Ketua Gene­rasi ke-19 Taijiquan aliran Chen, dan dari Feng Zhiquan, murid andalan Chen Fake, Ketua Generasi ke-17 Taiji­quan aliran Chen. Sedang un­tuk aliran Yang, ia belajar dari Yang Zhen Duo, Ketua Gene­rasi ke - 4 Taijiquan aliran Yang.

Supandi Kusuma juga bela­jar dari Men Hui Feng, Profe­sor Wushu dari Universitas Olahraga Beijing, salah satu dari 10 master wushu dunia pencipta rangkaian 42 jurus Taijiquan yang dipertanding­kan secara internasional itu. Salah satu lagi gurunya adalah Master Zhou Shu Seng yang menyandang predikat 10 Mas­ter Wushu Terbaik Dunia ta­hun 2007.

Ibarat Telur

Mengenakan T-Shirt biru tua dikom­bi­nasi celana jeans biru laut, Sabtu ( 8/7) sore, di ruang latih Padepokan Yaya­san Kusuma Wushu Indonesia (YKWI), Supandi Kusuma me­mang tengah memberi kursus singkat eksklusif terhadap Fefe. Kurang lebih 1,5 jam, Supandi Kusuma tak hanya memberi nasehat, teori, tapi juga me­ngoreksi beberapa gerakan Fefe yang dipandang tidak tepat.

Sebagai pelatih, yang telah mengan­tongi sertifikat interna­sional tahun 1987 dari Chinesse Wushu Associaton , Supandi Ku­suma tak hanya tahu teori Taiji­quan karena ia juga seorang prak­tisi Taijiquan. Ia telah mengikuti berbagai kejuaraan Asia sebelum tahun 1987, bahkan telah mengantongi sertifikat sebagai juri internasional tahun 1994.

“Bahu kamu saat dalam jurus pembukaan tak boleh rapat ke badan. Harus ada ruang, kem­bang sedikit. Kamu harus mem­ba­yangkan seperti ada telor ayam di ketiak tapi telor itu tak jatuh walau bahamu bergerak.”

Menurut Supandi Kusuma bermain Taijiquan itu memang harus rileks. Badan tidak boleh dipaksakan. Saat Fefe memepa­gakan jurus pertama dari 24 jurus yang dipertandingkan, beberapa kali Supandi Kusuma terlihat langsung mengoreksi beberapa gerakan yang dilakukan Fefe. Diantaranya posisi bahu yang terlihat kaku seperti posisi seorang pelajar tengah mengikuti upacara sekolah.

Saat Fefe membuat gerakan mem­buka kaki kiri kesamping selebar bahu, lalu kedua lutut ditekuk, badannya kurang lurus sehingga membuat pinggangnya tidak seperti orang tengah dalam posisi duduk..

“Posisi pinggangmu salah, harus seperti orang duduk, sehingga seluruh tenaga dipin­dahkan ke kaki kanan,” ujar Supandi Kusuma. Kuda-kuda yang kuat menurut Supandi Kusuma akan mem­buat seluruh anggota badan bergerak lentur ke kanan dan kiri.

Fefe yang tengah diberi kurus khusus itu, tak lain adalah anak sulung dari pasangan Chris John dan Maria Megawati. Chris John adalah salah satu legenda tinju Indonesia. Ia mengawali karir­nya sebagai atlet Wushu di nomor sanda. Ia berkali menya­bet medali emas dari satu PON ke PON lain. Tahun 1997 di ajang SEA Games, ia juga berha­sil menyabet medali emas. Tahun 2003 ia berhenti dari Wushu dan beralih ke olahraga tinju. Sejarah olahraga di tanah air kemudian mencatat setelah itu ia dikenal sebagai petinju profesional kelas dunia.

Sedangkan Megawati dulu­nya atlet nanquan dari Jawa Tengah. Sejak tanggal 5 Juli lalu, Chris John dan isterinya ‘mem­boyong’ kedua anaknya belajar wushu di Padepokan YKWI. Mereka memanfaatkan waktu liburan sekolah yang ada. Fefe alias Maria Luna Ferisa yang sulung, memilih menggeluti nomor Taijiquan. Ia kini berla­tih di bawah bimbingan Dwi Arimbi, atlet Taijiquan generasi kedua di YKWI setelah Jainab yang juga pernah dilatih lang­sung Supandi Kusuma. Sedang­kan adiknya Rosa Christiani (9) yang menekuni changquan dilatih Aldi Lukman.

Fefe sendiri mengaku se­nang bisa dilatih secara khusus oleh Master Su­pandi Kusuma. Apalagi selama meme­ragakan Taijiquan 24 jurus, ia langsung diberi tahu berbagai gerakan yang salah dan disuruh meng­ulang sampai benar.

“Capai juga sih,” ujarnya. Heriyanto, Ketua YKWI yang hadir langsung ikut nyeletuk:

“Kalau dilatih Pak Pandi memang gitu. Ibaratnya mulai listrik di tempat latihan menyala jika gerakan atlet belum benar, maka atlet disuruh terus me­ngulangi sampai benar. Jika su­dah benar, listrik baru dima­tikan, sementara atlet nomor lain sudah beristirahat,”tutur Ace, panggilan karib Heriyanto sembari senyum simpul.

Tiga hari berlatih di Padepo­kan YKWI Medan, Fefe me­nga­ku masih harus banyakj menyesuaikan diri. Misalnya soal jam berlatih. Di kota asa­lnya, ia biasa berlatih mulai pukul 17.00 – 20.00 WIB. Se­mentara di Padepok­anYKWI ia berlatih pukul 15.00 – 18.00, lalu ditambah malam hari pukul 20.30 – 21. 30 WIB. Dari sisi waktu, lebih lagi tenaga, cukup terkuras.

“Jadi habis latihan langsung gini….,” ujarnya sembari tertawa dan membuat gerakan menempelkan puggung tangan kanan ke pipinya.

Fefe sendiri mengaku tak mengira jika menggeluti nomor Taiiquan ternyata lebih susah dan lebih berat dibanding nomor lain. Awalnya ia mengira berlatih Taijiquan lebih mudah dan ringan. Setelah ditekuni ternyata berbeda ama sekali.

Senang

Sementara itu selaku orang­tua, Chris John dan Maria Me­ga­wati mengaku senang anak­nya bisa dilatih langsung oleh Master Supandi Kusuma.

“Kami sangat senang dan bersyukur Pak Supandi mau melihat, melatih dan memberi­kan pengarahan buat anak kami Fefe, kami yakin Fefe akan mendapat­kan pengalaman ber­la­tih yang sangat bermanfaat buat masa depannya," ujar Chris John.

Menurut Chris John, Sasana YKWI juga merupakan salah satu sasana Wushu terbaik di Indonesia. Duet para pelatih lokal dan non lokal yang memiliki komitmen terbukti sudah menghasilkan atlet-atlet yang berhasil meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasio­nal. Fasilitas untuk pembinaan atlet yang ada di Padepokan YKWI menurutnya juga sangat memadai.

"Karena itu saya memperca­yakan anak-anak kami menimba ilmu di Padepokan YKWI," tambahnya. Kedua­nya menga­ku siap menemani anak mereka berlatih di YKWI secara jangka panjang. Walau konsekuensi­nya mereka secara bergantian mereka akan mene­mani Fefe dan adiknya selama berlatih di Medan.

“Tak ada prestasi tanpa pe­ngorban­an,” ujar Maria Mega­wati. Ia juga sadar, nama besar Chris John rupanya juga bisa jadi beban bagi karir anaknya sebagai atlet wushu. Ia memberi contoh, belum lama ini saat Fefe dan Rosa ikut dalam kejuaraan junior di Universitas Negeri Semarang (UNES), saat nama anak­nya disebut, banyak pe­nonton berbisik-bisik. “Mana yang anak Chris John?”

“Keadaan ini tak hanya membuat kami deg-degan menunggu seperti apa penam­pilan Fefe dan Rosa. Di sisi lain ini juga memengaruhi anak kami,” tuturnya. Fefe semisal pernah bertanya kepada dirinya.

“Ma, apakah yang harus selalu tampil bagus?”

Megawati sempat terhenyak menda­pat pertanyaan seperti itu. Beruntung ia pernah jadi atlet dan bisa menjawab dengan bijak:

"Bukan bagus, tapi yang per­lu kamu lakukan adalah mela­kukan gerakan Taijiquan de­ngan benar,” tuturnya.

Tahu Teori

Belajar jurus atau gerakan Tai­jiquan dengan benar tentu saja butuh seorang pelatih Taijiquan yang benar-benar me­ngerti teori Taijiquan. Bukan seorang pelatih yang hanya belajar dari video rekaman.

Di negara kita pelatih dengan kualifikasi seperti ini tergolong langka. Itu yang membuat atlet Taijiiquan Indonesia sangat sedikit mampu berprestasi di tingkat dunia. Narasi sejarah Wushu di negara kita mencatat baru ada atlet seperti Jainab (Medan), Lindswel, (Medan), Cyndi Martono (Surabaya) dan Fredy (Medan).

“Kalau pelatih taiji tidak tahu teori, dan hanya tahu jurus-jurusnya saja, maka orang yang dilatih hanya tahu gerakan-gerakannya saja. Taiji tidak jadi imu bela diri, seninya pun tidak ada, dan hanya jadi senam yang keluarkan keringat saja," kata­nya Pelatih yang tak mengerti teori Taijiquan yang benar akan membiarkan mata muridnya melihat ke kiri atau kanan.

"Padahal mata harus lurus ke depan mengikuti gerakan tangan," ujar Supandi Kusuma memberi contoh sederhana arti penting seorang pelatih me­ngua­sai teori Taijiquan yang benar.

Jadi beryukurlah mereka yang men­dapat guru yang memang benar-benar mengerti teori dan praktek Taijiquan.

Head Office

Jl. Wushu No. 3-7 Medan 20214
Sumatera Utara - Indonesia
Telp. +6261 7358938 - 7359338
Fax. + 6261 7362980

http://www.ykwi.or.id
Email : ykwi.wushu@gmail.com

Daftar Sekarang Juga
Sebagai Anggota Baru WushuTai-Chi

Kami akan terus bekerja lebih keras demi prestasi Indonesia. Kami akan memenuhi kebutuhan atlet-atlet PELATNAS dengan program kami seperti mendatangkan pelatih Tiongkok atau mengirim atlet kita ke Tiongkok. Atlet dan pelatih juga harus bekerja lebih keras

Partners